Sunday, June 28, 2009

The Dream Team (part 7)

It's (Our) Dean Cup (part 2)
Tahun pertama : Malam Keakraban
Tahun kedua : Dekan Cup
Tahun ketiga : Bakti Sosial
Tahun Keempat : - (tidak terdeteksi riwayatnya)
Tahun Kelima : - (tidak terdeteksi riwayatnya)
Tahun keenam : Panitia Lulusan Dokter (PLD)
..........................................................................................................................................................................
Tahun 2005

Tahun kedua kami berada di kampus yang katanya kampus perjuangan."nya" siapa pun aku tidak tahu, yang jelas tahun ini ada tugas yang harus dikerjakan. Tugas yang menurut senior kami adalah tugas angkatan, seperti saat kami mengadakan acara keakraban.
Tugas kali ini adalah mengadakan suatu kegiatan olah raga. Menurut informasi yang kami terima, kegiatan ini bertujuan untuk mengakrabkan seluruh civitas akademika FKUI dan membangun semangat sportivitas.Acara ini dinamakan dengan Dekan Cup.

"(Sungguh mulia sekali kegiatan ini)" begitu yang ada dalam pikiranku.
Persiapan untuk kegiatan ini mulai diadakan. Hari itu kembali Ridho berdiri di depan kelas. Ia berdiri bukan untuk memberikan kuliah yang barang tentu akan mengundang kemurkaan seluruh penghuni kelas. Kali ini dia berdiri untuk memimpin pemilihan Ketua Dekan Cup.
Seluruh anggota kelas diminta mengajukan calon hingga akhirnya muncul dua nama teratas, yaitu Adit, Donny dan Liga. Pemilihan tanpa debat politik serta arak-arakan seperti yang ketua senat lakukan.

Tiga nama tadi diserahkan untuk memilih satu orang oleh mereka sendiri. Pemilihan yang dilakukan tanpa adu jotos, dugaan kecurangan atau penggelembungan suara. Semua dilakukan secara kekeluargaan. Hingga akhirnya terpilihlah Donny sebagai ketua dan Adit sebagai bendahara.
Rapat perdana penyusunan panitia dilakukan. Aku pernah mendengar selentingan kabar mengenai dekan cup dari senior. Bagaimana "keangkeran" Dekan Cup serta sulitnya menjadi panitia. Rapat hari itu semakin menegaskan kabar itu menjadi lebih dari selentingan saja.

Donny memimpin rapat penyusunan panitia ini
"Gw liat potensi yang besar dalam diri loe-loe pada, dan itu amat berguna jika loe mau sumbangkan, untuk dekan cup, untuk angkatan kita" ucap Donny.
Kata-kata singkat yang cukup untuk membakar tekad panitia untuk bersama mengerjakan tugas "berat" ini. Kata-kata yang provokatif yang menjadi ciri khasnya untuk mengelabui kekhawatiran para panitia.

Tugas berat dalam Dekan Cup (DC) dimulai sesaat setelah nama setiap panitia diketik dalam daftar susunan panitia. Tugas berat yang semakin memuncak pada Technical Meeting Dekan Cup (TM DC).
Keangkeran TM DC bahkan melebihi keangkeran DC itu sendiri. Informasi ini sudah kami dapatkan jauh-jauh hari sebelumnya dari senior-senior yang kelak sangat mempengaruhi kami dalam menjalankan dan memahami esensi DC. Informasi ini cukup membuat kami ketar-ketir. Terbayang suasana tegang, adu pendapat, keegoisan dan kesewenang-wenangan pada TM DC. Keangkeran TM DC tidak berakhir dengan cepat. Cerita mengenai TM DC yang bisa dilaksanakan 2 hingga 3 kali semakin melipatgandakan kecemasan kami.

TM DC

Ruang makan Kafetaria dipilih sebagai ruang pelaksanaan TM DC. Pukul 4 teng waktu senior, seluru panitia harus sudah di ruangan rapat dengan berbagai "sesajen". Meja dan kursi disusun melingkar dengan seluruh panitia, terutama penanggung jawab (PJ) cabang olah raga duduk di salah satu sisi meja. Suasana ruangan kafetaria yang tidak terlalu luas semakin menambah aroma kecemasan.

Pukul 4 teng

Beberapa orang senior masuk ruangan, melihat sekeliling ruangan mengharapkan adanya celah untuk dapat memasukkan kesalahan kami kedalamnya. Wajah yang dilipat serta garis bibir yang melengkung kebawah menghiasi hampir seluruh wajah mereka. Sebagian datang masih menggunakan snelli sebagian hanya menggunakan kemeja bahkan kaos oblong. Mereka datang dari berbagai angkatan.
Perlahan tapi pasti kursi mulai di penuhi. "Sesajen" pun mulai mengalir.
"Mengapa tidak ada satu orang senior pun yang kukenal yang datang sekarang" pertanyaan itu mulai menggerayangi kepalaku. "Kacau ini"
"Sreettt" pintu kafe terbuka tampak beberapa orang masuk. Yup, mereka sudah tiba, senior-senior yang biasa bermain sepakbola bersama kami. Walaupun mereka kebanyakan biasa bermain bersama kami, akan tetapi kami mengetahui siapa yang akan menusuk kami dan yang mana yang akan melindungi kami.

Donny membuka TM DC sore itu.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Satu persatu PJ membacakan peraturan diikuti bantahan dan permintaan yang terkadang aneh tapi nyata dari para senior. Hingga sampai ke suatu cabang. Disaat seorang PJ membacakan peraturan, seorang peserta TM berteriak kearahnya..

"Woi... Loe mirip Tunggul Ametung"
zzzzziiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggggg...

Spontan saja teriakan ini memancing tawa seluruh peserta TM. Sedangkan panitia hanya bisa tersenyum kecut. Sedangkan orang yang di maksud hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Mungking saja bila senior tersebut bukanlah senior, mungkin akan keluar kata-kata
"B*S*NG...!!!" dari mulutnya.
Sejak saat itu, sang PJ menjadi populer dan mulai mengukir kisah di pergaulan kampus dan tim sepakbola 2003.

Secara anatomis, ruangan kafe adalah ruangan yang paling cocok untuk melaksanakan TM DC setelah bangsal potong anatomi. Luas ruangan yang cukup untuk membantai seluruh panitia dan menyusunnya menjadi tumpukan sarden di tambah lagi tata suara yang sesuai untuk melipatgandakan teriakan menjadi beberapa dB lebih tinggi.

Untunglah (masih disebut untung), TM DC kami berlangsung 2 kali akibat kurangnya waktu bukan karena hal yang lain. Pembahasan peraturan dua cabang yang berpotensi rusuh (sepakbola dan bola basket) menjadi penyebab TM DC dilaksanakan sebanyak 2 kali.

Belakangan TM DC mulai dipikirkan untuk tidak lagi "seangker" dulu karena DC bukan untuk menyiksa. TM DC mulai dipindahkan ke dalam ruangan yang lebih luas (ruang anatomi). DC adalah wujud sportivitas. Sportivitas yang berarti banyak hal positif. Berjiwa besar mengakui kekalahan, mensyukuri kemenangan, menghargai lawan dan kawan, mengikuti aturan, mengedepankan logika bukan kekerasan, kesetiakawanan dan yang terpenting adalah persaudaraan.

Kalau kita memperbaharui silahturahim dengan saudara saat idul fitri, maka DC adalah ajang itu terhadap seluruh sivitas akademika FKUI. Bukankah saat idul fitri kita tidak berkelahi degan saudara atau teman kita, mengapa kita melakukannya di DC ???

DC bukan sekedar ajang olah raga. DC merupakan ajang persaudaraan. Tujuan mulia yang masih jauh tapi pasti akan tercapai. Semoga pikiranku bukanlah hal yang utopia semata.

Saturday, June 27, 2009

The Dream Team (part 6)

It's (Our) Dean Cup (part 1)

Ini adalah jawaban yang aku terima saat aku mengirim pesan via Facebook, meminta kembali ketua DC 2004 untuk menuliskan kembali kisah mengenai DC 2004.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Dekan Cup
Sebuah Perjalanan Menuju Kemenangan

SIAPAPUN tahu dekan cup. Setidaknya pernah mendengar namanya. Tetapi, mungkin tidak semua mengetahui kenangan dibalik acara olahraga terbesar intra kampus ini. Dan melalui tulisan ini, gw mencoba menghadirkan kenangan-kenangan itu di hadapan teman sejawat, yang baik secara langsung atau tidak langsung ikut membentuk kenangan tersebut. Salam.

Ruang anatomi
Dalam suatu sore yang biasa, beberapa teman menyemperi dan memberitahu bahwa hasil pooling ketua Dekan Cup(DC) udah ada. Hasilnya : suara gue dan liga sama. So?? Dengan beberapa negosiasi, akhirnya gue yang kepilih jadi ketua. “Ahh,,mati nih gue!!” inilah respon pertama gue. Beberapa hari kemudian, mulailah gue bergerilya “mencari” ketua2 cabang olahraga. Metode yang paling gue senangi adalah duduk agak dibelakang, baris tengah, lalu mengamati orang2, sebelum, saat, dan sesudah kuliah. Hahaha.. udah kaya’ profesi spionase. Lalu saat jam istirahat, gue samperi orangnya dan mengatakan : “ hey,, angkatan kita punya “gawe-an” besar, dan gue melihat ada potensi yang amat baik dalam diri loe!!” cara yang sedikit norak, tapi alhasil, hampir semua panitia direkrut melalui metode ini. Kecuali beberapa orang yang akan gue ceritakan nanti.

Perjalanan menjadi ketua DC memang tidak pernah mulus. Beberapa hari kemudian, mulailah “panggilan pertama” senior. Saat itu, angkatan paling tua ’98, tetapi yang memanggil angkatan ’99. Hahaha.. interogasi dimulai…emang kalo dilihat2 angkatan di tingkat V dan VI kaya beda bapak tapi satu ibu. Niatnya sama, tapi caranya beda. Hahaha.. Dan mulai saat itulah, gue lebih banyak menghabiskan waktu untuk “bersembunyi” di ruang anatomi untuk memberi kabar kepada teman2 & menentukan sikap. Hampir setiap hari, begitu gue masuk kelas dengan muka pucat, lgs disamperi ketua2 cabang, dan mulailah gue mendongeng! Hahaha… itulah cara gue rapat. Sambil ngegerombol di anak tangga kedua pintu masuk belakang , ga ada notulensi, lebih banyak nge-gosipnya, dan yang pasti bercandanya selalu kelewatan. Sampai-sampai hampir kita menangis karena tertawa. Maklumlah, gue belum melek ttg organisasi. Rapat DC bagi gue adalah saat dimana kita meningkatkan kadar endorphin.Syukur2 kalo bisa sampe DC selesai, hahaha.

Masih ingat kenangan DC lain ?? Kebijakan 100 ribu tentunya. Kebijakan ini adalah mewajibkan setiap kelompok diskusi untuk datang saat pertandingan DC sesuai jadwal yang telah ditentukan.Kalo ada satu orang aja yang ga lengkap maka satu kelompok itu didenda 100 ribu.hahaha…Kebijakan Kontroversial ini asli bikinan ketua2 cabang dan seksi. Kalo ga salah, niat mulianya adalah agar teman2 yang selama ini kurang aktif berperan dalam DC bisa ikut ambil bagian. Niat jeleknya adalah, dulu kita bener2 kehabisan uang untuk mengadakan pertandingan, so kita pakai uang dari kantong2 kita sendiri! Puluhan ribu? Ratusan? Tidak. Jumlahnya jutaan!! Percaya ga loe?? Kalo inget hari2 itu, rasanya gue sedih banget. Terharu oleh tindakan heroik temen2 gw!!

Oleh karena itu, kita berharap ada kelompok2 yang tidak bisa lengkap datang saat pertandingan, sehingga kita bisa mendapat pemasukan 100 ribu. Lumayan lah.. hahaha..
Itulah beberapa cerita dari ruang anatomi, rumah kita di kelas dua. Satu hal yang selalu gue syukuri adalah beruntung gue bisa berada di angkatan ini.

Kafetaria
Bagi Dekan Cup, kafetaria adalah ruang pembantaian! Betul tak??! Hahaha.. sedari pagi sampe siang agak sore, ruang ini amat bermanfaat bagi sivitas kampus, dari segala umur. Kafetaria memang tempat makan dan nongkrongnya anak2 FKUI. Lalu kenapa gue menjuluki demikian?? Ruangan ini mulai menampakkan hawa keramatnya mulai sore hari, di hari technical meeting pertama Dekan Cup. Inilah tempat favorit untuk technical meeting, selama kurang lebih 10 tahun selalu menduduki urutan teratas “a cozy place 4 TM” pilihan senior. hahaha.. ancuur!!

Banyak kelebihan ruang kafetaria ini, ruang tidak terlalu luas(hanya beberapa langkah, senior sudah bisa ‘menyentuh’ kita, atau lemparan bisa hampir 100% kena target, atau suara amplitudo tinggi bisa lebih menggema), ruang bisa kita atur sedemikian rupa ( sehingga terdakwa bisa berada pada pusat perhatian & terlihat jelas), lampu2 agak temaram (ini yang menarik, dimana kita tidak bisa memprediksi dari mana arah serangan, dan kesanya kita berada di pelantikan perkumpulan gelap) hahaha… cukup, cukup!! Tapi bener, itu alasan2 kenapa TM DC paling asyik kalo di kafetaria. J J

Sedikit cerita, akhirnya berlalulah TM yang tidak terlupakan. Boleh jadi hanya disini gue bisa merasakan suasana tegang, gemetar, haru, dan marah menjadi satu. Boleh jadi pula disinilah gue merasakan lagi betapa bersyukurnya menjadi bagian dari angkatan 2003. Akhirnya, Pengalaman TM inilah yang membuat gue memilih kafetaria sebagai tempat yang patut disebut saat cerita DC.

Senat Mahasiswa
Perjalanan DC selanjutnya adalah Senat Mahasiwa. Tempat ini mempunyai catatan tersendiri dalam diri gue. Senat bagi gue adalah laboratoriumnya kegiatan mahasiswa, termasuk dekan cup. Mohon maklum, kenalan kakak kelas pertama gue di FKUI adalah ketua senat, yah jadinya ikut deh senat menjadi bagian yang gue minati. Tapi yang gue mau cerita disini adalah bagaimana sebuah ruang yang dibangun hanya dari permainan angka-angka bisa menyumbang sejarah peradaban mahasiswa.

Suatu ketika, malam hari setelah technical meeting pertama, kita-panitia dan beberapa anak2 sepakbola 2003- berkumpul di ruang yang nyaman ini. Sembari melepas lelah, kita berbicara jauh, jauh sekali tentang mimpi kita di dekan cup. Pembicaraan yang lebih mirip sebuah khayalan dibandingkan kenyataan. Kekecewaan dan harapan bercampur aduk menjadi sebuah diskusi yang emosional. Waktu pun menjadi tidak laku. Lapar menjadi sahabat berbicara. Ya, semua orang disana melebur menjadi satu kesatuan yang melahirkan tekad dan semangat perubahan. Sebuah rasa kecewa dan sakit hati yang melahirkan semangat perubahan. Inilah awal mula hasil karya kita yang sering kita sebut indah. Satu mimpi dan harapan untuk dekan cup yang fair dan berkualitas.

Singkat cerita, pulanglah kami dengan semangat, setelah sebelumnya semangat dan harapan kami disedot saat technical meeting. Yang lucunya adalah, ketika semua sudah menuruni tangga senat dan ingin keluar, pintu pagar telah dikunci. Saat itu waktu kalo ga salah jam 1-an. Setelah sekian menit berkeliling mencari satpam yang bertugas, akhirnya, kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara kami : “Mari,, kita panjat pagar ini secara berjamaah!!” Hahaha… “maliiiing!!!” teriak salah satu teman kita

Rumah kos Ketua Senat PPDS
Dalam sore yang teduh, saat praktikum histologi hampir selesai,, tiba-tiba hape gw bunyi dan pas gw intip dari balik mikroskop : “ Gila,, bang X telepon!!”. Sembari dag-dig-dug, gw angkat teleponnya dan menjawab dengan nada ga keruan “ iya, bang…”. Singkat cerita senior ini menyarankan untuk bertemu dengan ketua senat PPDS untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan PPDS. Akhirnya, sore itu juga gw ketemu dengan ketua senat PPDS dan inilah yang gw pengen ceritakan.

Tepat pukul 17.00, gw, ridho, dan septo sampai pada rumah nomor 17 di jalan bluntas. Rumah yang dari inspeksi luar terlihat sederhana dan nyaman. Bel beberapa kali dibunyikan dan keluarlah wanita dan menyuruh kami langsung naik kelantai dua. Mulailah kami celingak-celinguk ga jelas, sambil berusaha mempersiapkan diri akan kejutan-kejutan yang kami yakin akan terjadi. Yap, selanjutnya kami ketuk kamar satu2nya yang ada di lantai dua dan langsung dibukakan pintu. Kejutan pertama terjadi. Munculah seorang laki-laki, berperawakan sedang, atletikus, rambut lurus dengan belahan tengah. Wajah yang tampak bersih dengan kumis dipotong tipis, menyiratkan kesan lelah yang berlebihan. Pakaiannya biasa saja, kemeja putih lengan pendek dimasukan rapi kedalam celana jeans warna hitam. Kesan yang gw tangkap dari penampilan luarnya adalah orang ini punya kekuasaan penuh atas diri dan lingkungannya. Seolah-olah dia yakin betul lingkungan dan orang-orang sekitar berjalan sesuai kehendaknya. Dan satu hal yang ga pernah gw lupa adalah sorot matanya yang menyiratkan kepercayaan diri dan keyakinan yang berlebihan. Yup inilah kesan gw melihat ketua senat PPDS. Boleh dikata inilah orang kedua di kampus FKUI yang menarik perhatian gw.

Akhirnya , berlangsunglah pertemuan selama kurang lebih 45 menit, ditemani oleh kebulan2 asap yang mellingkar-lingkar, buku2 neurosurgery yang berserakan, laptop terbuka dengan suara tuts merangkai kata dan beberapa cangkir kopi yang berisi ampas2 hitam. Pembicaraannya sedari awal tenang dan menyiratkan bahwa dia sudah amat berpengalaman di dunia PPDS dan dekan cup. Bahkan kami sempat mendengar ocehannya tentang dekan cup yang ternyata lebih seram. Hahaha…

Singkatnya,, kami mendapat apa yang kami butuhkan. Yaitu suaka. Jaminan bahwa dekan cup ini akan terus berjalan dengan sportif. Itu saja sudah cukup untuk kami menjalani dekan cup esok hari. Setidaknya malam itu kami bisa tidur lebih nyenyak. Hehehe..

Ruang Chief Lt V IGD RSCM
Gw mungkin orang yang amat beruntung. Kenapa?? Sebelum masuk klinik, gw sudah dipaparkan dengan anatomi IGD RSCM. Hahaha… Yap,, gw agak lupa waktu yang tepat kapan kejadian ini. Yang pasti saat itu gw sendiri untuk mencari chief bedah. Lho,, kok mencari?? Iya,, karena sebelumnya negosiasi gw dengan residen bedah kurang memuaskan. Maka, jadilah gw disuruh ketemu dengan chief bedah di lt V IGD RSCM. “Masuk kandang macan nih gw..” itulah respon gw pertama kali. Akhirnya tibalah gw di lt V dan menujulah ke kamar paling pojok di lorong bagian kanan. Terjadilah pembicaraan yang menurut gw amat lucu..
A : “ ohh, loe ketua dekan cup?? Siapa nama loe??”
D : “ Donny dok…”
A : “ Ngapain loe kesini??
D : “ ini, dok,, anu.. hmm.. dekan cup dok…”
D : “Untuk pertandingan sepakbola, kita bingung untuk menentukan PPDS bagian mana yang akan main dan…”
A : “ Udah lah bedah aja.. bagian lain ga ada yang main…”
A : “tahun lalu juga begitu khan??”
D : iya dok,, kami juga telah memutuskan bedah yang paling cocok ikut dc…”
D : Tapi dok,, kami minta bantuan nih dok,, boleh ga lapangan bedah dipake buat pertandingan dekan cup?? Dan klo bedah yg main kita dapet sewa diskon dunk..? heheh
A : okey.. tapi sbenernya sewa lapangan itu juga pake duit kita2,, kalo bagi dua boleh..
D : okey bang.. siiip… makasiy banyak bang…

Yah itulah dia,, pola2 negosisasi yang kami lakukan. Sederhana saja, di setiap kepentingan yang ada, selalu terdapat peluang yang dapat bermanfaat untuk kita… yah kira2 kalo negosiasi dengan senior kurang lebih polanya mirip. Hehehe…

Pertemuan ini merupakan titik balik semangat panitia. Setelah pertemuan dengan ketua senat PPDS dan seorang chief bedah, rasanya dekan cup sudah cukup aman dan mampu laksana. Tinggal kita mengajak damai senior-senior tk V dan VI. Untuk senior yang ini, hehehe, caranya lebih aneh lagi dan terkadang jauh lebih sulit.

Udah pernah denger legenda “cincin seniortitas” TK.VI?? Ya.. ternyata setiap tahun cincin itu selalu diturunkan….hahahah.. parah!!

Lapangan Banteng
Diantara banyak lapangan yang pernah kita injak, mungkin hanya lapangan banteng yang punya cerita menyedihkan. Lapangan hijau bagi kita hampir sebagai saudara kandung. Diatas rumput lapangan sepakbola ini, kita pernah bermain bersama, berkeringat penuh semangat, duduk melingkar beralaskan akar-akar pohon tua. Semuanya sesuai kemauan kita. Kita melepas semua lelah dan beban disini, bersama-sama. Betapa banyak kenangan yang tersimpan rapi di lapangan hijau, tempat kita dahulu mengenal satu sama lain lewat sepakbola.

Namun, lapangan banteng punya kisah yang lain. Suatu weekend, di pagi buta, gw dah memanaskan mobil. Ngapain?? Yap! Pagi itu adalah semifinal sepakbola DC. Pertandingan akan dimulai jam 06.00 dan yang akan main adalah senior tertua. Hihii dag, dig,dug…pagi itu gw beli semua perlengkapan makanan dan minuman,, lalu menjemput riski, yadi dan septo. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang menjalankan sepakbola dekan cup sedari awal. Alhasil, tibalah kita dilapangan banteng jam 6 kurang 15 menit. Dan dengan PeDe nya kita berjalan-dengan akua dus di pundak dan bola ditangan kanan dan kiri, serta peluit di mulut- menuju tempat duduk penonton. Dan kejutan pertama akhirnya datang juga! Ternyata disana sudah ada 4 orang senior dengan tampang kuyu’ menyambut kami dengan nada tinggi.
A : “Kalian Telat!!”
B : “maaf bang,, khan mainnya jam 06.00??”
A :” aarrgg masa’ gw duluan yang dateng, padahal gw baru jaga nih!!”
B : “……….” (kita kehabisan ide ngomong..)
A : “Udahlah loe lari aja 5 puteran lapangan!!,, eh temen loe yang lain mana??”
B : “ wah bang,, karena udah libur, temen2 saya pada pulang kampung..”
C : “ gapapa bang,,kemarin2 juga segini, yang penting pertandingannya lancar bang..”
A :” Ah, banyak alesan loe!! Tambah 5 puteran lagi!! Iya ga?!
A dkk : “ Yoi…olahraga pagi dulu loe pada!!”

“Ampaaasss……” akhirnya riski, yadi dan septo lari keliling lapangan. Gw sendiri tega ga tega meninggalkan mereka karena harus membeli akua dus lagi, karena mereka meminta lebih. Inilah salah satu cerita tentang ketidakadilan yang selalu mengemuka di dekan cup. Perjanjian sebelumnya memang tidak pernah ada bahwa panitia harus datang ½ atau 1 jam sebelumnya. Yang penting pertandingan tepat waktu. Akhirnya peraturan hanyalah sebuah catatan. Catatan yang terlalu lemah untuk mengikat senior. Yah, disinilah pentingnya kita mengikat senior2 bijak di setiap angkatan. Salah satu strategi yang cukup ampuh untuk menjalankan dekan cup.

Penutup
Sekian cerita dekan cup gw. Selama tidak lebih dari 6 bulan kita menjalankannya dengan sabar. Sampai suatu ketika, tidak terasa hari esok adalah hari penutupan DC. Jumat yang selalu dinantikan. Walaupun tidak menjadi juara umum,, tapi kita percaya bahwa kita telah melakukan lebih dari sekedar menjadi juara umum, yaitu membuat dekan cup menjadi ajang yang adil dan berkualitas.


By : Donny Eka Putra (Ketua Dekan Cup 2004)

Sunday, June 21, 2009

The Dream Team (part 5)

The Angels

Everyone of us has guardian angels who always be with us to protect us and guide us.

Sepak bola bukanlah olah raga favorit saat itu di kampus. Bayangan padatnya aktivitas kuliah, tugas-tugas yang menumpuk serta tidak berhubungannya kegiatan ini dengan aktivitas kuliah semakin membuat olah raga ini dijauhi sebagian mahasiswa di kampus.

Bagi mahasiswi, olah raga ini tidak memiliki gengsi. Bayangan lapangan terbuka dipayungi sinar mentari yang terik di siang hari, debu serta panasnya udara di sekitar lapangan membuat olah raga ini menjadi olah raga yang paling terakhir ditonton. Belum lagi efek samping terhadap mahasiswa yang menekuni olah raga ini. Badan kurus dengan kulit gelap yang terkesan dekil dan tidak terawat semakin menjauhkan kesan "keren" dari anak-anak bola (sebutan untuk mahasiswa yang bermain sepak bola). Apabila dibandingkan dengan olah raga bola basket maka hal ini cukup beralasan.


Menariknya hidup di dunia yang indah ini adalah tidak adanya satu hal yang pasti. Semua memiliki pengecualian. Itulah fleksibilitas.
Termasuk kedalamnya adalah orang-orang yang berada di sekitar kami. Sejak awal bermain bola di kampus, sudah ada mahasiswi yang setia mengikuti kami. Mengikuti mungkin kata yang boleh aku ambil mengingat ini adalah pilihan yang "berani". Disaat mahasiswi lain memandang sebelah mata bahkan memalingkan wajah terhadap kami, mereka selalu ada bahkan terus setia bersama kami. Mereka adalah "Angels" untuk tim 2003.

Generasi awal angels ini bisa disebut termasuk diantaranya adalah Rie (Rizky Cinderasuci), Tissa (Tissa Indriaty), Ruri (Kartika W) dan Asti (Ade W). Mereka sering, walaupun tidak selalu, menonton kami bertanding. Kehadiran yang sesungguhnya sangat kami harapkan sebagai amunisi saat bertanding, pemain ke 12 dalam pertandingan.

Seperti halnya kami, angels pun mengalami pasang surutnya. Mereka datang silih berganti. ditahun ketiga, nama-nama seperti Tanti (Resultanti), Lina (Lina Sulistiwati), Gita Ayu dan Ria Muhajirah turut menghiasi bangku pendukung kami. Bahkan kini beberapa nama yang hampir selalu menyertai pertandingan kami di tahun terakhir ini.

Angel, yang mungkin dapat diartikan malaikat, sesunguhnya yang boleh didaulat menjadi Mother angel tim 2003 adalah Rie. Kesetiaannya mendampingi setiap pertandingan mungkin dapat disamakan seperti Bunda bagi anak-anak Slank.
Apa yang dia lakukan untuk tim 2003 menjadi inspirasi bagi munculnya istilah Manajer untuk Kesebelasan FKUI, setelah posisi ini terakhir kali dipegang oleh Alfan FKUI 97 (saat ini sudah dr. Alfan Mahdi, Sp An-staff Departemen Anestesiologi FKUI). Mungkin kini dia dapat tersenyum lega karena tongkat estafet kemanajeran sudah sukses diteruskan mulai dari Diana '05, Ucha'06, Anty' 07 serta Anggi '08.

Pahit manisnya perjalanan kami juga dirasakan oleh angels ini. Mereka menjadi saksi bagaimana sakitnya kami ketika sportivitas dinodai. Bagaimana tegangnya kami menghadapi tekanan, kepiluan kami dalam kekalahan atau bagaimana menggilanya kami ketika kemenangan berada di genggaman.

Kalau The Jakmania punya Jak-Angel
Kalau The Viking punya Lady-Viking
...
Maka kami punya kalian... "Angels"

Kalian adalah Pemain ke-12. Kalian berada di belakang hanya karena kalian terlahir beda.
Thanks Angels...